*BARRU, NAR4SInews.com* – Kamis, 5 Juli 2026 – Rapat pembahasan pengaduan rencana pembangunan pabrik kantong/packing plant PT Conch Barru Semen Indonesia kembali digelar. Luring dan daring. Meja panjang. Pejabat lengkap.
Ada DLHK Sulsel, DPMPTSP Sulsel, Dinas SDACKTR Sulsel, DLH Barru, Direktur PT Conch, hingga LSM. Tapi satu suara yang membuat ruangan itu hening: suara warga.
*“ADA APA SEHINGGA AMDAL TETAP JALAN?”*
Muh. Hatta, warga Garongkong, Kelurahan Mangempang, berdiri dan menembak langsung. Ia mengaku sebagai pihak yang akan terdampak paling pertama jika pabrik berdiri.
“Sampai hari ini masyarakat masih bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya sehingga proses AMDAL tetap berjalan pada lokasi yang sejak awal dipersoalkan warga,” ujar Hatta lantang di hadapan forum DLHK Sulsel.
“Jangan sampai negara terlihat lebih cepat melayani kepentingan investor daripada melindungi keselamatan rakyatnya sendiri,” lanjutnya. Tepuk tangan kecil terdengar dari barisan warga dan ormas.
Pernyataan itu adalah tamparan. Karena lokasi yang akan jadi pabrik itu bukan lahan kosong. Itu di tengah permukiman warga JampuE, Garongkong, Gempungnge, hingga Ammessangeng. Rumah warga, anak-anak, sekolah, ada di sekelilingnya.
*TURUN DULU, JANGAN CUMA STEMPEL*
Hatta menilai pemerintah terlalu buru-buru bicara dokumen. Padahal kondisi lapangan belum dicek.
“Sebelum bicara AMDAL, turun dulu ke lapangan. Lihat rumah warga sedekat apa. Lihat jalan, lihat debu, lihat air. Jangan putuskan nasib kami hanya dari atas meja,” tegasnya.
Bagi warga, AMDAL yang diproses di lokasi konflik sosial seperti ini adalah bentuk abai. Potensi konflik, polusi, dan penggusuran sudah terlihat sejak awal. Tapi prosesnya tetap jalan.
*KELEBIHAN KAPASITAS, TAPI PABRIK BARU TETAP DIPAKSA*
Kritik Hatta tidak berhenti di lingkungan. Ia menyeret persoalan makro: industri semen nasional.
“Indonesia saat ini sudah kelebihan kapasitas produksi semen. Kalau pabrik baru tetap dipaksa berdiri, siapa yang rugi? Persaingan makin tidak sehat, industri nasional dilemahkan, lapangan kerja di pabrik lama terancam,” kata Hatta.
Artinya, demi satu investasi baru, negara berpotensi mengorbankan industri yang sudah ada ditambah ribuan tenaga kerja serta kesehatan warga sekitar.
*TUNTUTAN WARGA: HENTIKAN DULU*
Forum itu seharusnya jadi ruang mendengar. Tapi bagi warga, ini ujian. Apakah Pemprov Sulsel serta bupati Barru hanya diam membisu menyaksikan ini semua dan akan memilih investor atau rakyatnya sendiri?
Warga menuntut 3 hal:
1. *Hentikan proses AMDAL* di lokasi permukiman sampai ada kajian sosial yang jujur.
2. *Peninjauan lapangan wajib* oleh semua OPD terkait, bukan hanya baca berkas.
3. *Utamakan prinsip kehati-hatian*. Jangan korbankan hak hidup warga demi target investasi.
“Jangan sampai nanti setelah pabrik jalan, baru kita ribut soal debu, penyakit, dan PHK. Terlambat,” tutup Hatta.
Hingga berita ini ditulis, Pemprov Sulsel dan Bupati Barru belum memberi jawaban tegas. Proses AMDAL PT Conch Barru Semen Indonesia dikabarkan masih berjalan.
Pertanyaannya kini kembali ke meja Gubernur dan Bupati Barru: Mau melindungi rakyat, atau melindungi investor?
_Penulis/Editor: Tim Redaksi NAR4SInews.com_