filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; module: j; hw-remosaic: 0; touch: (0.45277777, 0.45277777); modeInfo: ; sceneMode: Night; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 238.44385; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

*PAREPARE, NAR4SInews.com* –Selasa, 7 Juli 2026, 02.30 WITA – Jarum jam sudah menunjuk dini hari. Aula Kantor Kelurahan Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, penuh dengan warga sekitar. Bukan karena rapat. Bukan karena musyawarah.
Siang itu, seluruh ruangan pecah dalam isak tangis. Warga, staf kelurahan, Ketua RT/RW, melepas orang yang selama hampir 3 tahun menjadi “ayah” bagi mereka: *Zulkifli Farid, S.E., S.H.*
Acara perpisahan yang berlangsung hampir 2 jam itu terasa seperti mengantar anggota keluarga pergi. Dan setelah tangis reda, giliran Lurah baru disambut. Tapi sorot mata yang hadir siang itu, masih tertuju pada satu nama, ZulkifliFarid S.E,SH.
*”LURAH YANG SELALU DITEMANI SENYUM”*
Tiga tahun bukan waktu sebentar. Cukup untuk membuat seorang pemimpin dicintai.
Bagi warga Galung Maloang, Pak Zulkifli bukan lurah biasa. Ia dikenal baik hati, tidak pernah membeda-bedakan. Tutur katanya lembut, kata demi kata yang keluar dari mulutnya selalu sopan dan menenangkan.
Yang paling diingat warga: kebijaksanaannya. Berapa banyak persoalan rumah tangga, sengketa tanah, hingga keributan lingkungan yang berakhir damai di ruang mediasi beliau. Selalu dengan senyuman. Selalu dengan kepala dingin.
“Beliau cerdas mengambil keputusan. Tapi yang paling kami rindukan adalah caranya memperlakukan kami seperti keluarga,” ujar Irwansjah S.sos kepala seksi kelurahan Galung Maloang dengan mata berkaca-kaca.
*”PERPISAHAN INI BAGAIKAN G 30 SPKI“*
Puncaknya adalah pesan dan kesan dari para Ketua RT dan RW. Kata-kata yang sederhana, tapi menusuk.
“Perpisahan ini bagaikan G 30 SPKI. Mengapa? Karena rasanya Lurah saya diculik,” ucap Pak Maming, Ketua RT 02 RW 05. Dengan suara bergetar.
“Lurah yang sangat baik dan selalu ditemani dengan senyum lebar di wajahnya ini, tiba-tiba harus meninggalkan kita dan berpindah ke instansi lain. Jujur saya sangat susah melepaskan beliau,” lanjutnya.
Di tengah haru, Pak Maming bahkan melontarkan harapan yang mewakili seluruh isi ruangan:
*”Apakah bisa kita bersama-sama menghadap kepada Walikota Parepare agar memperpanjang masa bakti Pak Zulkifli Farid????”*
Pertanyaan itu menggantung, dijawab dengan anggukan dan sesenggukan.
*WARISAN YANG TAK TERLIHAT*
Siang itu bukan hanya serah terima jabatan. Ini tentang kehilangan.
Galung Maloang kehilangan sosok yang membuat warga merasa aman. Kehilangan mediator yang adil. Kehilangan “Senyum Lurah”.
Setelah prosesi perpisahan, acara dilanjutkan dengan penyambutan Lurah baru. Tapi satu hal pasti: nama Zulkifli Farid akan tinggal selamanya di hati warga Galung Maloang.
Selamat bertugas di tempat baru, Pak. Terima kasih telah mengajari kami arti melayani dengan hati.
_Penulis/Editor: Tim Redaksi NAR4SInews.com_