*Gubernur Sudirman Sulaiman “Alergi Kritik” : Gaya Komunikasi ‘Songong’ ala Penguasa Sulsel*
*Sulawesi Selatan, NAR4SInews.com, 09 juli 2026* – Pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, dalam sebuah orasi publik memicu polemik hebat dan gelombang protes keras dari masyarakat. Kalimat bersayap seperti, “Kalau ada yang bicara maka saya tidak kerja,” serta pernyataan yang menentang warga, “Kalau ada yang tanam pisang maka saya akan tambah pisangnya,” dinilai publik sebagai bentuk nyata dari sikap antikritik dan kesombongan seorang penguasa.
Orasi tersebut memicu opini liar di tengah masyarakat yang merasa terluka oleh komunikasi publik sang pemimpin. Berbagai kecaman keras kini dialamatkan langsung kepada Gubernur Sulawesi Selatan akan gaya kepemimpinannya di Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan.
Seorang warga dengan sinis mempertanyakan pemahaman dasar sang gubernur dalam mengelola sebuah negara hukum yang berlandaskan kedaulatan rakyat.
“Kalau gubernur tak paham bernegara, apakah beliau tahu kalau negara kita negara demokrasi? Kita ini republik loh,” cetus warga tersebut dengan nada kecewa.
Tidak berhenti di situ, kegeraman masyarakat semakin memuncak karena sikap tersebut dinilai jauh dari standar ideal seorang pemimpin demokratis. *Sudirman Sulaiman* dituding lebih mengedepankan keegoisan dan keangkuhan dibanding nilai-nilai kenegarawanan. Sifat antikritik ini dianggap sangat bertentangan dengan Pro-rakyat dan mencerminkan sikap pemimpin yg non-demokratis.
“Beliau ini sangat arogan. Mengapa? Mungkin dia paham akan kenegarawan, namun beliau mengedepankan songong dan keegoisannya,” ujar seorang warga dengan geram.
“Sifat inilah yang sangat tidak boleh menjadi pemimpin di Indonesia. Cocoknya hanya pada pemerintahan ‘monarki absolut’, di mana dia harus membangun kerajaannya sendiri karena sikap yang ditunjukkan cocok untuk sebagai pemimpin yang tiran,” tambahnya.
Di sisi lain, polemik ini juga memicu rasa syukur di kalangan warga yang sejak awal tidak memberikan dukungan politik kepada beliau. Mereka merasa prediksi mereka tentang gaya kepemimpinan buruk ini terbukti benar.
“Saya sangat bersyukur karena dulu waktu pemilihan saya tidak memilih dia, saya sudah memprediksikan nantinya bakal seperti ini,” ungkap warga lain yang bukan pendukungnya.
Gaya komunikasi publik yang menantang rakyat dan menutup telinga dari kritik ini menjadi catatan merah bagi tata kelola pemerintahan di Sulawesi Selatan. Pemimpin daerah sejatinya adalah pelayan rakyat dalam sistem republik, bukan penguasa absolut yang anti terhadap aspirasi masyarakat.
Penulis/Editor: Tim redaksi NAR4SInews.com