*SIDRAP, NAR4SInews.com* – 08 Juli2026 – Selamat datang di museum jalan hidup. Namanya Jalan Poros Pangkajene–Soppeng. Jaraknya tak seberapa, tapi waktu tempuhnya bisa 3 jam. Alasannya sederhana: jalannya sudah pensiun dini sejak zaman belum ada aspal.
Warga dengan setengah bercanda, setengah pasrah menyebutnya “Jalan Era Kerajaan Sebelum Masehi”. Predikat itu bukan tanpa sebab. Lubang di mana-mana, aspal entah ke mana, dan badan jalan yang sempitnya minta ampun. Berpapasan mobil roda empat? Siapkan mental, sabar, dan doa.
“Seharusnya hitungan menit, ini malah jadi hitungan jam. Kami harus ekstra hati-hati, karena salah sedikit, nyawa yang jadi korban,” kata salah seorang pengendara yang tiap hari bertaruh nyawa di jalur tersebut.
Warga lain menambahkan, kesabaran adalah SIM kedua di jalan ini. “Kalau mau lewat sini, buang dulu ego di rumah. Jalannya sempit, jadi harus antre giliran. Kalau tidak, ya sudah, sama-sama kejepit,” ujarnya.
Ironisnya, jalan vital ini seperti barang tak bertuan. Ketika ditanya, jawabannya klasik: “Itu kewenangan Provinsi”. Ketika ditanya ke Provinsi, jawabannya mungkin: “Tunggu anggaran”. Sementara itu, masyarakat disuruh sabar menanti di antara lubang dan debu.
Beberapa warga pun bertanya-tanya dengan nada getir: Apakah pemerintah terlalu sibuk gunting pita, seremonial, dan acara formal yang menaikkan citra, sampai lupa ada jalan yang tiap hari menurunkan derajat manusia menjadi pejalan kaki yang mendorong mobilnya?
“Acara boleh banyak, tapi kalau jalan rusak dibiarkan, buat apa? Masyarakat butuh aspal, bukan hanya pidato,” sindir warga.
Hingga berita ini dirilis, Pemerintah Kabupaten Sidrap belum memberikan tanggapan resmi soal kondisi “cagar budaya” bernama Jalan Poros Pangkajene–Soppeng ini.
Harapan warga pun sederhana: Tolong, perhatikan jalan ini sebelum ia resmi didaftarkan sebagai situs purbakala. Masyarakat Sidrap butuh infrastruktur, bukan hanya inaugurasi.
Penulis/Editor: Tim Redaksi NAR4SInews.com