BARRU, NAR4SInews.com, 3 Mei 2026, -Jalan masuk Wiringtasi di Kelurahan Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, kini lebih pantas menyandang predikat arena off-road atau kolam pemancingan daripada akses jalan warga.
Bagaimana tidak, jalan vital yang menghubungkan lingkungan Wiringtasi dengan Kecamatan Balusu ini, sekaligus akses menuju situs Cagar Budaya Nasional Saoraja (istana),dibiarkan hancur lebur tanpa perbaikan berarti dari Pemerintah Kabupaten Barru.
Parahnya lagi, kerusakan jalan ini menjadi ancaman harian bagi siswa SMP 21 Barru, SDN 114 Barru, serta karyawan PLTU Kec. Balusu yang bergantung pada akses tersebut.
Alih-alih berprestasi, jalan ini “berprestasi” dalam mempertahankan fosil budaya kerusakan. Seolah-olah ada upaya melestarikan jalan rusak, membiarkannya tak tersentuh modernisasi sejak lama.
*7 Tahun Musrenbang, Nol Realisasi*
Kekecewaan memuncak dari warga dan tokoh masyarakat setempat. Firman, selaku Ketua RW sekaligus aktifis masyarakat Wiringtasi, melontarkan kritik pedas terhadap kinerja Pemerintah dan DPRD Kabupaten Barru.
“Jalan ini sudah masuk Musrenbang mungkin kalau tidak salah sudah 7 tahun, namun tidak pernah direalisasikan secara total. Tambalan jalan yang sedikit-sedikit dilakukan ketika mendekati Pesta demokrasi itu hanya akal-akalan “niat” ingin mengobati hati yg rusak, justru menjadi awal dari seringnya kecelakaan yang terjadi karenanya,” ujar Firman dengan nada geram.
Firman juga menyoroti kinerja DPRD yang dinilai gagal mewakili aspirasi masyarakat.”Anggota dewan yang harusnya memperjuangkan suara kami, malah hanya duduk diam dan termenung menikmati dinginnya AC dan singgasana yang empuk. Kami di Wiringtasi bertaruh nyawa tiap hari, mereka santai menikmati nyanyian partainya tanpa aksi nyata,” sindir Firman.
*Janji Tinggal Janji, Warga Menuntut Perbaikan Total*
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat di wilayah Wiringtasi masih menunggu perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Barru. Warga menegaskan tidak butuh janji manis Musrenbang, melainkan perbaikan jalan yang utuh dan layak agar akses ekonomi dan pendidikan tidak terhambat.
Dengan seringnya kasus kecelakaan akibat jalan berlubang tersebut yang menyerupai kubangan sapi di musim hujan, warga menilai pemerintah daerah terkesan melakukan pembiaran dan mengabaikan keselamatan warga.
Sumber: Firman/Narasinews.com
Penulis: Tim Redaksi NAR4SInews.com
Editor: SPL