*Pare-Pare-Barru, NAR4SInews.com*, 3 juli 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang sebagai solusi gizi anak Indonesia. Anggarannya triliunan. Gaungnya besar. Tapi di lapangan? Ceritanya berbeda.
Di berbagai daerah, suara sumbang dari orang tua murid mulai mengeras. Bukan menolak gizi anak. Tapi mempertanyakan: _Apakah caranya sudah benar?_
*1. Mubazir di Piring Anak*
Keluhan paling dasar: banyak anak tidak menghabiskan makanan. Alasannya klasik tapi nyata. Tidak suka menu, alergi, atau punya pantangan kesehatan tertentu. Ujungnya? Nasi, lauk, sayur, berakhir di tempat sampah sekolah.
“Anak saya alergi telur dan santan. Tapi menunya itu-itu saja. Akhirnya dibuang. Sayang anggaran, sayang makanan,” keluh seorang ibu murid SD.
Jika 1 porsi terbuang, mungkin rugi Rp10 ribu. Jika 100 ribu porsi terbuang per hari? Hitung sendiri kerugian negara.
*2. “Kasih Uang Saja, Pak”*
Aspirasi lain yang terus muncul: ubah bentuk bantuan. Banyak orang tua menilai uang tunai atau bantuan bahan pokok akan jauh lebih tepat sasaran.
“Kebutuhan tiap rumah beda-beda, Pak. Ada yang anaknya susah makan, ada yang lebih butuh uang untuk ongkos atau jajan sehat versi mereka. Dikasih uang, kami yang atur,” ujar perwakilan orang tua murid.
Argumennya sederhana: Negara percaya orang tua untuk mendidik, tapi tidak dipercaya untuk mengatur uang makan anaknya sendiri?
*3. Pro Kontra, Tapi Evaluasi ke Mana?*
Tentu ada pihak yang masih mendukung MBG. Alasannya: ada anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan. Di sinilah MBG dianggap menyelamatkan.
Namun pertanyaannya, kenapa 2 kelompok besar ini dibenturkan? Kenapa tidak ada skema fleksibel?
Sampai hari ini, publik hanya disuguhi jargon “lanjutkan”. Minim data terbuka soal tingkat keterbuangan makanan, kepuasan penerima, dan efektivitas gizi yang benar-benar masuk ke tubuh anak.
*Pertanyaan Publik: Lanjut Asal-asalan, atau Hentikan dan Ganti?*
Program ini tidak bisa jalan dengan ego kebijakan. “Lebih baik lanjut atau berhenti?” itu pertanyaan yang sah.
Jika dilanjutkan tanpa perbaikan menu, tanpa pendataan alergi, tanpa opsi substitusi, maka MBG berisiko menjadi program prestise yang isinya hanya piring kotor dan anggaran bocor.
Jika dihentikan, maka harus ada skema pengganti yang lebih manusiawi dan efisien.
Pemerintah wajib membuka data evaluasi secara transparan, mendengar, dan berani mengubah arah jika terbukti tidak efektif. Karena yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran negara. Tapi gizi, dan masa depan anak Indonesia.
Penulis/Editor: Tim Redaksi NAR4SInews.com