PARE-PARE NAR4SInews.com, 21 mei 2026– Jalan Lingkar Lanyer di Kelurahan Galung Maloang, Kec. Bacukiki, Kota Parepare, kini berubah fungsi. Yang seharusnya jadi jalur lancar bagi pengendara, justru dipenuhi tiang listrik yang berdiri tepat di badan jalan. Akibatnya, arus lalu lintas terganggu dan pengendara dipaksa bermanuver berbahaya di jalur sempit.
Masalah tak berhenti di situ. Beberapa tiang milik Telkom malah menempati saluran air, menyumbat aliran selokan. Saat hujan turun, air meluap ke jalan. Ketika kering, jalan tetap sempit karena tiang yang seharusnya sudah dipindahkan.
*Menunggu Korban Baru Bergerak?*
*Warga mempertanyakan logika kerja pihak terkait.*
“Apa harus menunggu ada pengendara jatuh atau mobil nyangkut baru tiang itu dipindah? Keselamatan warga kok dijadikan taruhan,” ujar salah seorang warga yang rutin melintas.
Kondisi ini bukan bencana alam. Ini adalah hasil dari perencanaan yang cacat dan pengawasan yang absen. Tiang yang mestinya dipindahkan sebelum jalan dibuka, justru dibiarkan menjadi penghalang tetap.
*Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?*
*Publik kini menunjuk tiga pihak yang diduga lalai:*
*1. Telkom*
Sebagai pemilik aset, Telkom dinilai membiarkan tiang-tiangnya berdiri tanpa koordinasi pemindahan. Apakah efisiensi anggaran lebih penting daripada keselamatan pengguna jalan?
*2. Kontraktor Pelaksana*
Ada dugaan kuat kontraktor sengaja menghindari biaya pemindahan tiang demi menekan anggaran dan memperbesar keuntungan. Gambar kerja yang telah disepakati pun diabaikan.
*3. Pemerintah Kota Parepare*
Diamnya Pemkot Parepare dalam kasus ini memunculkan kesan apatis. Fungsi pengawasan dan penertiban infrastruktur publik seolah mati setelah peresmian. Sikap ini membuat warga bertanya: “Apakah pemerintah sudah tidak peduli dengan keselamatan warganya sendiri?”
*Tuntutan Warga: Pindah Sekarang, Jangan Tunggu Celaka*
Warga menuntut Pemkot Parepare, Telkom, dan kontraktor pelaksana segera melakukan pemindahan tiang yang menghalangi jalan dan selokan. Penundaan hanya akan menambah risiko kecelakaan dan banjir lokal.
“Jalan dibangun untuk memperlancar lalu lintas, bukan untuk menciptakan jebakan. Selokan dibuat untuk mengalirkan air, bukan untuk disumbat tiang. Kalau dibiarkan, ini bukan kelalaian lagi, tapi pembiaran yg TDK bermoral,” tegas warga.
Pembiaran terhadap kondisi ini dinilai akan menjadi preseden buruk: proyek boleh selesai, meski keselamatan publik dikorbankan.
Penulis/Editor: Tim Redaksi NAR4SInews.com